RSS
Tampilkan postingan dengan label Our Creation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Our Creation. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

Salahkah Ketika Mendapat Sebuah Kesenangan?

Telah di publish di media Islam, dakwatuna . Ditulis oleh Riyan Fajri (Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Madani Masa Jihad 2011-2012

dakwatuna.com – Assalamu’alaikum
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam;
Salawat dan Salam kita sampaikan untuk Nabi dan Rasul kita, Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat-sahabtnya dan pengikut-pengikutnya dari dahulu hingga akhir zaman.
Saudara – saudaraku yangg dirahmati Allah SWT!
Salahkah ketika kita mendapatkan sebuah kesenangan atau kenikmatan dunia? Tentu jawabannya tidak, karena Semua itu adalah anugrah dari Allah SWT. Lalu kenapa terkadang kesenangan dunia berimplikasi pada hal-hal yang negatif? Ternyata hal ini disebabkan oleh orientasi yang sangat besar terhadap kesenangan dunia ini. Orientasi yang berlebihan ini menimbulkan effek buruk dikarenakan orang-orang rela mengorbankan orang lain demi tercapainya kepuasan akan nikmat dunia ini.

Fenomena mengejar kenikmatan, saat ini bukan hanya terjadi pada mereka, kalangan kecil, yang tidak memiliki apa-apa, tetapi juga pada mereka yang berada di atas angin. Mereka berlomba-lomba mengejar kenikmatan dunia ini tanpa henti dan tanpa lelah (korupsi & mencuri contohnya). Selanjutnya, fenomena ini bukan hanya terjadi pada umat-umat agama lainnya, tetapi juga terjadi pada kebanyakan umat islam saat ini,. Betapa menyedihkan bukan ketika orientasi hidup seorang muslim saat ini berubah hanya untuk mencari kesenangan semata? Padahal di dalam sholat kita selalu berjanji, “Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil alamin”. Hidupku hanya untuk Rab semesta Ala mini, lalu apakah kita mau mengingkari janji yang kita buat dengan Allah?

Saudara – saudaraku yang dirahmati Allah!
Aku pernah mengalami hal yang menarik masalah ini. Pernah seseorang memberi saran, “akh, antum itu jangan berorientasi kepada akhirat saja, dunia ini juga harus dipikirkan”. Pernah juga dikasih saran, “Ingat dunia dan akhirat, harus diseimbangkan”. Terkadang Aku tersenyum ketika diberi saran seperti itu, karena, keadaan sekarang menjadi lucu. Banyak orang yang mengait-ngaitkan hal dunia ini dengan bertopengkan Islam, contohnya seperti seseorang yang bekerja atau kuliah tetapi meninggalkan dakwah itu sendiri dengan dalil bekerja dan kuliah itu adalah ibadah. Coba kita hitung, berapa banyak waktu yang telah kita luangkan untuk memikirkan agama-Nya ini dalam 1 hari? Banyak mana kalau dibandingkan dengan waktu yang kita gunakan untuk dunia ini?

Dalam buku “Sosiologi dengan pendekatan Membumi“ jilid 1 karangan James M Henselin (hal 8) disebutkan bahwa ada suatu kaum yang berpendapat bahwa tanda tuhan dekat dengan mereka adalah dengan melihat jumlah harta yang mereka miliki. Sehingga kaum itu berlomba-lomba mencari harta kekayaan. Hal ini sudah diteliti sehingga itu menjadi salah satu penyebab timbulnya kapitalisme di dunia ini. Ilmuan menyebut perilaku ini dengan “Etika Protestan”. apakah etika ini sesuai dengan islam? Jawabannya tentu tidak. Karena janganlah kita menyerupai suatu umat.

Allah telah melarang kita untuk berlomba-lomba hanya mencari kesenangan dunia. Dalam surat At Takatsur (yang mungkin antum hafal), diceritakan tentang hal itu.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (At-Takatsur: 1-8)

Surat ini turun dulu ketika ada dua kelompok yang saling membanggakan diri dan kekayaan satu sama lain. Sehingga Allah menegur perilaku mereka dengan surat ini.

Saudara – saudaraku yang dirahmati Allah SWT!
Ketahuilah sesungguhnya bahwa kesenangan itu tidak akan habis-habisnya jika di kejar terus menerus. Makanya terkadang cobaan yang paling berat adalah ketika kita dihadapi dengan sebuah kesenangan dan kenyamanan. Ini semua tidak bisa dipungkiri, karena terlalu banyak bukti yang nyata di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pernah dengar kisah kehidupan Qarun? Qarun dulu adalah ahli ibadah sebelum dia menjadi kaya, tetapi bagaimana kah sikapnya setelah mendapatkan kesenangan dari Allah SWT? Dia berubah menjadi orang-orang yang fasik, dia menganggap bahwa semua harta kekayaannya itu berasal dari jerih payahnya, bukan dari Allah. Sehingga Allah membenamkan ia bersama denga harta-hartanya ke dalam perut bumi.

Pernahkah kita berfikir tentang kenikmatan akhirat yang ditawarkan oleh Allah SWT? padahal itu semua lebih baik dan tiada bandingannya kalau dibandingkan dengan nikmat dunia.
“…Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah: 38)

Lalu mengapa manusia masih senantiasa mengejar nikmat dunia dibandingkan dengan nikmat akhirat? Jawabannya satu, karena nikmat akhirat tidak tampak dan tidak bisa dirasakan saat ini. Begitulah kedangkalan visi dari orang-orang saat ini. Mereka dibuai oleh nikmat-nikmat dunia yang nyata sehingga itu menumpulkan semangat mereka untuk mendapatkan suatu hal yang lebih besar dibalik semua ini. Di dalam ilmu psikologi, Piaget, seorang ahli psikologi, mengatakan bahwa seorang anak-anak membutuhkan hal yang konkrit (nyata) untuk menambah pemahaman baru di dalam pemikiran mereka sedangkan orang-orang dewasa sudah bisa berfikir secara abstrak. Nah, semua kejadian ini membuktikan bahwa kedewasaan di dalam diri manusia itu masih terlalu kurang. an berharap semoga kita semua adalah orang-orang yang pemikirannya sudah dewasa sehingga kita tidak terlena dengan hal-hal yang tampak saat ini.

Saudara – saudaraku yangg dirahmati ALLAH!
Untuk itu, kita sebagai pejuang-pejuang islam di masa depan, mari kita berzuhud terhadap dunia ini. Ingat kehidupan di dunia ini hanya sementara, kita boleh mencari kesenangan dunia tetapi jangan kita jadi kan itu sebagai tujuan hidup kita, tujuan hidup kita hanya untuk Allah. Karena tawaran yang diberikan oleh Allah itu lebih baik dari pada apa yang ada didunia ini. Yakinlah akan hal itu!
Wallahu a’lam bish shawab
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
READ MORE - Salahkah Ketika Mendapat Sebuah Kesenangan?

STABILITAS DINAR DAN DIRHAM

 STABILITAS DINAR DAN DIRHAM Bersama; Ust. ABDULHAQUE ALBANTANIE

            Uang dalam berbagai bentuknya sebagai alat tukar perdagangan telah dikenal ribuan tahun yang lalu seperti dalam sejarah Mesir kuno sekitar 4000 SM – 2000 SM. Dalam bentuknya yang lebih standar, uang emas dan perak diperkenalkan oleh Julius Caesar dari Romawi sekitar tahun 46 SM. Julius Caesar ini pula yang memperkenalkan standar konversi dari uang emas ke uang perak dan sebaliknya dengan perbandingan 12 : 1 untuk perak terhadap emas. Standar Julius Caesar ini berlaku di belahan dunia Eropa selama sekitar 1250 tahun yaitu sampai tahun 1204.
            Di belahan dunia lainnya di Dunia Islam, uang emas dan perak yang dikenal dengan Dinar dan Dirham juga digunakan sejak awal Islam baik untuk kegiatan muamalah maupun ibadah seperti zakat dan diyat sampai berakhirnya Kekhalifahan Usmaniah Turki tahun 1924.
            Mengawali keterpurukan dari pelanggaran perjanjian Bretton Wood “setiap mata uang harus dirujuk pada standar emas”. Dibawah kendali Nixon maka perjanjian tersebut dibatalkan sepihak pada tahun 1971 ketika dolar Amerika semakin lemah dan ekonomi Amerika mengalami krisis. Sejak saat itu Dolar As tidak didasarkan lagi pada standar emas. Dengan demikian  ekonomi dunia secara praktis telah dikuasai Amerika, mengingat rujukan transaksi dunia saat ini adalah Dolar amerika, sedangkan mata uang tersebut sepenuhnya diatur oleh pemerintah Amerika. Belum lagi kewajiban Bank sentral di seluruh dunia yang harus menyimpan mata uang asingnya  dalam bentuk Dolar Amerika.
            Imbasnya? Seperti balon yang dilepas dari ikatannya – harga emas terus membubung tinggi. Bila pada tahun-tahun sebelum ikatan tersebut dilepas harga emas dunia berada pada kisaran US$ 35/Oz; pada tahun 1971 ketika ikatan dilepas, harga emas mulai merangkak ke angka US$ 40/Oz – kini harga itu telah mencapai US$ 1.200-an/Oz atau dalam US$ naik 30 kali-nya selama kurun waktu 40 tahun saja. Balon Rupiah lebih tinggi lagi terbangnya. Bila pada tahun pelepasan ikatan tersebut harga emas masih dikisaran Rp 500/gram; kini harga itu di kisaran Rp 350,000/gram atau naik  700 kalinya selama 40 tahun terakhir (www.dinarislam.com ).
            Dimasa Baginda Rasulullah SAW satu dirham setara dengan seekor ayam dan satu dinar setara dengan seekor kambing? Dengan sekarang harga dirham di kisaran Rp 63.000,- dan dinar Rp 1.730.000,- berarti tidak ada kerugian dulu dan sekarang. Bahkan, satu dinar bisa membeli dua ekor kambing. Bandingkan dengan uang kertas (Rupiah)! Di Indonesia, pada tahun  1970-an, seekor ayam sekitar Rp150,- dan seekor kambing sekitar Rp 7.500,-. Lalu apakah sekarang uang seharga demikian masih bisa membeli ayam dan kambing? Jangankan ayam, telur ayam pun tidak.
            Tak akan berjumpa dengan yang namanya inflasi jika menggunakan dinar dan dirham sebagai alat tukar sebagaimana yang akan dihadapi jika menggunakan uang kertas. Perlu direnungi, di Papua Amerika mengambil emas, lantas Papua hanya mendapat kertas.

Wallahu a'lam
   Semoga Bermanfaat :-)

HUMAS KAMMI Madani
READ MORE - STABILITAS DINAR DAN DIRHAM

Pemurnian Manhaj Dakwah

Ditulis oleh Riyan Fajri dan telah di cetak dalam media Islam Online eramuslim

Kesuciannya telah direnggut oleh mereka yang kotor; kebenaran telah mereka injak-injak; kepedulian telah mereka grogoti dengan virus yang bernama hedonisme; profesionalisme mereka telah menindas teman seperjuangannya sendiri, begitulah usaha-usaha yang dilakukan oleh segelintir orang munafik yang menopengkan wajahnya sebagai manhaj yang suci, bersih, peduli & profesional. Padahal manhaj ini sesungguhnya memiliki cita-cita yang tinggi untuk mengubah dunia, mereka hanya mencoreng nama besar manhaj dakwah ini.
Skenario yang terjadi di balik layar ini ternyata melibatkan para pendakwah yang telah ditutup mata hatinya demi menggapai mahkota dunia, yang tak lain hanya menawarkan kesan nikmat sementara, sedangkan mereka sebenarnya tahu bahwa sesungguhnya tujuan dari dakwah ini hanyalah Allah semata. Mereka rela menjual prinsip yang selama ini mereka agung-agungkan demi harta dan kekuasaan yang ditawarkan kepada mereka. Bukan hanya itu, teman seperjuangan (yang terus memegang prinsip) pun mereka korbankan demi melancarkan tujuan mereka itu. Sehingga disini timbul konflik antara mereka yang masih memegang prinsip dakwah itu sendiri dengan mereka yang telah menjualnya.
Selain itu, dakwah sekarang sudah mereka jadikan alat, siapa yang berani memberi tawaran yang tinggi, maka kesanalah mereka berkiblat. Para penerima dakwah yang berasal dari kalangan bawah terkadang tidak mengetahui hal itu. Dari awal bergabung , mereka telah ditanamkan ‘chip kami dengar dan kami taati’, sehingga apapun berita yang berjalan melalui gurita sistem itu, akan diterima bulat-bulat oleh mereka kecuali bagi mereka yang berfikir tentang kejanggalan-kejanggalan yang sudah terlalu jelas di mata ini.
Ini semua ditulis semata-semata hanya untuk mengingatkan kita semua akan penyimpangan-penyimpangan yang sedang terjadi pada manhaj ini. Bagi kita yang masih mengerti mengenai hakikat dakwah sesungguhnya, maka hendaknya kita sekarang mulai untuk kembali memurnikan manhaj ini, meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, demi tercapainya cita-cita manhaj ini yang sesungguhnya itu semua hanya untuk kejayaan agama-Nya. Manhaj yang dibangun dengan berbagai pengorbanan dari berbagai kalangan ini jangan kita biarkan menjadi rapuh. Akankah kita rela jika nantinya ini semua akan hancur? Bagi kita yang masih bisa menghirup nafas segar saat ini, maka mari kita bertindak, jangan hanya diam dan jangan takut.
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi [18] : 28)
Sungguh harapan itu masih ada, ini bukan cuma slogan, tetapi kita yang masih mempunyai hati nurani ini, mari kita wujudkan harapan dari manhaj dakwah yang sedang kita jalani ini.
Dakwah akan terus berjalan, ada atau tanpa kita. Ia hanya menerima mereka yang memelihara dan menjaga nya dengan tujuan Allah SWT semata, bukan bagi mereka yang memperalatnya.

By: Riyan Fajri (Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Madani, masa jihad 2011-2012
READ MORE - Pemurnian Manhaj Dakwah

Minggu, 23 Januari 2011

Gayus dan Tangan Mahasiswa

Fenomena Gayus Tambunan, kini kian menjadi topik hangat di panggung perpolitikan. Tidak tanggung, semua lapisan masyarakat dan aspek pemerintahan hingga Ibu Megawati dan seorang narapidana pun tergerak untuk memberikan aspirasinya terhadap publik. Lantas, bagaimana dengan pihak-pihak yang harusnya bertanggung jawab terhadap kasus korupsi?.

Dimana... peran KPK yang seharusnya mengemban tugas memberantas dalam hal ini?.
Rakyat yang kini menjadi korban utama. Ketidakstabilan perekonomian,terhambatnya pembangunan dan  kenaikan tingkat protes dari banyak LSM di Indonesia merupakan salah satu dampaknya. Otomatis, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah pun menurun. Sementara, pemerintah, dalam hal ini adalah presiden hanya bisa bertindak normatif, bukan konkrit.

"Sampai sekarang, Presiden belum mau menyerahkan kasus ini sepenuhnya ke KPK," kata pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti, di Jakarta, Sabtu, 22 Januari 2011, dalam vivanews.com.
Melihat kinerja pemerintah yang kini kian melamban, seakan-akan menyebarkan bau isu politik kepentingan. Lalu, dimanakah peran generasi muda yang dulu sempat mendobrak gebrakan era reformasi? Generasi muda, mahasiswa, seharusnya bisa menjadi penggerak ketika keadaan perpolitikan sedang goyah. Menegakkan pondasi-pondasi kebenaran demi kesejahteraan rakyat.

Gayus adalah segelintir kisah politisasi yang kini mewabah. Bagaimana dengan nasib rakyat lain dalam cerita fakta yang mungkin sudah kita lupakan. Kasus lumpur lapindo, Freeport dan angka kemiskinan yang semakin bertambah. Haruskah kita, diam saja wahai pemuda?!

Tentang Gayus
Gayus Halomoan P Tambunan, seorang lulusan STAN yang kini menjadi sosok kontroversial. Bagaimana tidak, dengan posisinya yang hanya sebagai PNS golongan IIIA memiliki rekening sejumlah 25 milyar dalam tabungannya dan mempunyai rumah dikalangan elit kelapa gading dengan harga diatas 1,4 miliar.
Pekerjaan itulah yang membuat dia "sakti". Saat namanya disebut oleh mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Susno Duadji orang pun geger. Sepak terjangnya diduga terkait makelar kasus. Susno menyebutkan Gayus memilikiRp 25 miliar di rekeningnya, namun hanya Rp 395 juta yang dijadikan pidana dan disita negara. Sisanya Rp 24,6 miliar menguap entah ke mana. Cukup adilkah hukuman itu diberikan untuk mafia selincah Gayus?
Sementara, beberapa fakta mengenai dakwaan untuk Gayus yang baru terungkap adalah:
Ketua majelis hakim Albertina Ho menyatakan, terdakwa terbukti melakukan pelanggaran seperti dalam dakwaan  JPU, yakni dakwaan kesatu subsider, dakwaan kedua primair, dakwaan ketiga dan dakwaan keempat. Albertina menyatakan, Gayus terbukti telah menyalahgunakan wewenang dan korupsi saat menangani keberatan dan banding wajib pajak, PT Surya Alam Tunggal (SAT). Gayus telah mengusulkan kepada pimpinannya supaya menerima keberatan dan banding PT SAT. (Jakarta, Cybernews).

Jadi, akankah kita, MAHASISWA terus diam dengan ketimpangan pemerintah ini?

~23 Januari 11~ Kastrat KAMMI Madani
READ MORE - Gayus dan Tangan Mahasiswa

Al Quran